9 Dec
Sembilan Desember. Tanggal ini ditetapkan oleh UN sebagai International Anti-Corruption Day, berdasarkan United Nations Convention Against Corruption. Hari ini, kawan-kawan mahasiswa meneriakkan keluh, bahwa mereka ingin korupsi diberangus dari muka bumi, tepatnya dari Indonesia. Momen yang sungguh tepat, karena kasus Bank Tertentu baru saja hangat dibicarakan.
Moga2 saja, dengan semua yang diupayakan di hari ini, di tanggal ini, Allah akan membukakan jalan untuk tujuan yang mereka capai. Sungguh Allah Maha Kuat dan Perkasa.
Nah, kalo korupsi di dunia sudah hilang, saatnya untuk menghilangkan korupsi kecil-kecilan yang kita lakukan: misalkan korupsi waktu. Atau justru terbalik? Atau harus berjalan berdampingan? Bagaimana?

Be Yourself (Haruskah?)
Sudah sangat sering saya mendengar yang satu ini. Be yourself. Atau secara kasar, dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai jadilah diri sendiri. Semua kelebihan yang dimiliki, atau semua kekurangan yang dimiliki, itulah dirimu. Tapi, apakah dengan seperti ini saja cukup? Menurut saya, entah kenapa, saya berpikir bahwa kata-kata ini tidak begitu baik, bahkan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa-rasanya, dengan mengusung kata ini di kepala kita, tidak ada yang namanya dimensi perubahan. Perubahan menuju arah yang lebih baik. Ya, ini kembali lagi karena semua kelebihan yang dimiliki, atau semua kekurangan yang dimiliki, itulah dirimu.
Padahal, di sekitar kita, teladan yang luar biasa adalah sangat banyak. Contoh kongkret adalah Rasulullah SAW. Telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah. Dan, sebagai seorang Muslim, Rasulullah adalah panutan. Kehidupan beliau adalah teladan bagi umatnya. Nah, dengan begini, masihkah manusia harus mengusung be yourself di kepalanya?
Musim Hujan
Waktu SD dulu, kalo ga salah inget sih, Pak Guru ngendiko bahwa musim hujan di Indonesia itu terjadi pada bulan Oktober sampai dengan bulan April. Tapi entah kenapa sekarang, yang notabene sudah bulan Nopember, hujan tak kunjung turun jua. Kalo kayak gini, ada apa ya Pak?
Menggunakan OpenDNS
Hari ini saya coba-coba mendaftar di OpenDNS. Meskipun saya tidak tahu secara pasti mekanisme yang bekerja di belakangnya (saya awam), di situsnya disebutkan bahwa dengan menggunakan DNS milik OpenDNS, You’re one step closer to a safer, faster, smarter and more reliable Internet. Tentu ini sangat sangar. Menarik hati orang-orang yang menginginkan browsing dengan kondisi yang cepat dan aman. Apakah klaim itu terbukti benar atau tidak, saya tidak tahu. Tapi, saya merasa koneksi yang semula sangat menyedihkan menjadi agak lebih cepat dikit. Hmm, jangan-jangan ini hanya sugesti? Kekuatan sugesti memang sangat hebat.
OpenDNS
Caranya cukup gampang kok. Tinggal ganti DNS sampeyan menjadi 208.67.222.222 (Preffered DNS Server) dan 208.67.220.220 (Alternate DNS Server). Sudah begitu saja. Jangan lupa restart komputer Anda.
* Satu langkah dalam meraih cita-cita sebagai ahli jaringan komputer
*
Seminar Pak Jenggot
Tanggal 9 Nopember 2009, saya mengikuti acara seminar yang diadakan oleh HMTC ITS. Seminar yang menarik, karena pada seminar ini pembicaranya adalah orang penting dalam dunia perkomputeran. Seorang bapak-bapak berjenggot bernama Richard M. Stallman. Bapak ini memberikan kuliah (menurut saya ini adalah kuliah, meskipun sebenarnya adalah seminar) selama kurang lebih 1,5 jam. Sebenarnya bapak ini hanya dikasih waktu 1 jam saja oleh panitia. Tapi, setelah engkel-engkelan sama si moderator, dan bilang ke audiens bahwa akan sangat memalukan (It will be a horrible shame) jika dia tidak bisa menyelesaikan presentasinya, akhirnya dia menang
. Oh iya, sempat terjadi kelucuan saat Pak RMS ini mengatakan bahwa dia kepanasan dan meminta tolong agar suhu ruangan dibuat lebih dingin. Karena kelamaan, akhirnya dia berdiri di bawah AC. Hihi.
Dalam seminar, Pak RMS berbicara panjang lebar tentang Free Software, tentang apa yang disebut dengan GNU/Linux, tentang apa yang dia sebut sebagai proprietary software, dan tentang minuman Coca Cola (untuk yang satu ini, tidak panjang lebar). Dan parahnya, dia menggunakan English. Oh iya, dari kuliah ini juga saya tahu bahwa Ubuntu yang saya pakai ini tidak sepenuhnya Free Software dan bahwa Linus Torvalds tidak pernah mendukung FSF.
Setelah 1,5 jam ngoceh dan menghabisakan 2 botol air mineral dan beberapa teguk Pepsi (RMS tidak meminum Coca Cola), akhirnya kuliah dititup. “Happy hacking, everyone!”, kata dia. Dan setelah itu, tentu saja, sesi foto-foto dengan Pak RMS tidak lupa!
“Credit is not an important issue in our life” – RMS
Ibu’
Bila kuingat masa kecilku
Ku s’lalu menyusahkanmu
Bila kuingat masa kanakku
Ku s’lalu mengecewakanmu
Banyak sekali pengorbananmu
Yang kau berikan padaku
Tanpa letih dan tanpa pamrih
Kau berikan semua ituEngkaulah yang ku kasihi
Engkaulah yang ku rindu
Ku harap s’lalu doamu
Dari dirimu, ya IbuTanpa doamu tak ‘kan kuraih
Tanpa doamu tak ‘kan kucapai
Segala cita yang kuinginkan
Dari diriku, ya Ibu
ABG
Kemarin saya membaca sebuah tulisan di suatu majalah. Ini adalah tulisan tentang profil seorang mahasiswa di Institut Teknologi Sesuatu, PTN negeri di Bandung. Akan tetapi, di sini, bukan profil mahasiswa itu yang pengen saya bahas. Yang pengen saya bahas di sini adalah tentang ABG. (Apaaa…???)
Di artikel ditulis bahwa, Kusmayanto Kadiman (saat masih menjabat sebagai rektor, sebelum akhirnya diangkat menjadi Menristek), dalam sebuah sidang penyambutan mahasiswa baru, menantang anak didiknya untuk bisa menjadi mahasiwa ABG. ABG lagii? Apa sih ABG itu?
A untuk Akademis baik, lulus dengan predikat cum laude. B untuk Berorganisasi, ditandai dengan mengikuti minimal 3 organisasi dan kepanitiaan. Dan G, untuk Gaul, ditandai dengan mengenal minimal 1000 mahasiswa lainnya. Ya, ini sangat menarik, menurut saya.

ini menarik (truk)
Setelah membaca artikel itu, saya merenung. Cukup lama. Akan tetapi, karena tiba-tiba saya wahing (baca: bersin), akhirnya perenungan itu berakhir sudah. Saya menimbang-nimbang masing-masing dari tiga huruf itu. Mencoba mencocok-cocokkan dengan keadaan diri sendiri. Ternyata, tiga poin itu belum ter-include di diri ini (jiah, bahasanya). Dan ujung-ujungnya, saya merasa tertantang, saudara-saudara sebangsa dan setanah air! Bagaimana dengan sampeyan?
Duit Nempel
Sabtu 31 Oktober 2009, di gedung Teknik Informatika ITS bagian belakang, depan kantin. Pas lewat di depan kantin, tiba-tiba saja saya menengok ke kiri, meskipun ga ada angin. Ada yang menarik di spot itu.
Tapi, meskipun ga ada angin, ternyata ada bau loh. Bau uang. Bukannya saya mata duitan, tapi tiba2 saja saya mendekat ke sumber bau itu. “Ini barang bagus nih, kayaknya”, sambil memegang-megang objek berwarna merah itu.

pengumuman
Oh iya, seperti pada gambar di atas, di samping objek warna merah itu ada tulisan, “Ditemukan uang 10.000 di depan kantin. Harap kejujuran anda.” Hihi. Aneh banget.
Kayak gini ini, sebenernya siapa yang salah sih? Heran. Kita tunggu saja, apakah pada besok pagi dan pada pagi-pagi seterusnya objek merah itu masih nempel di situ. Nantikan saja di blog ini! Hihi.
* objek berwarna merah = duit
Twit.. Twit..
Akhir-akhir ini saya suka maen-maen twitter, yang gambarnya burung emprit berwarna biru itu. Cukup asyik sih, sampai akhirnya saya menyadari bahwa jumlah orang yang saya follow (duh, bahasanya susah) bisa diitung dengan jari tangan + jari kaki = 24. Akhirnya diputuskan untuk mencari orang yang berpotensi untuk di-follow. Eh, nemu twitternya Pak Menkominfo KIB II (tifsembiring) ama twitternya Pak Wakil Presiden (boediono), dan yang lain-lainnya.
Kemudian, apa spesialnya? Bukankah twitter artis-artis ibukota juga sudah banyak? Beda dong. Tentu ini lebih spesial.
Oh, iya. Semoga yang beliau-beliau tuliskan itu bukan sekedar basa-basi dan kata-kata kosong. Yaaah, semoga saja. Untuk Indonesia kita, Bapak-Bapak!
